Hwa.. Memilih Jodoh?!?!
Hohoho.. di bulan Februari yang “pink” banget ini,
Dimana cupid berpesta ria karena begitu banyaknya uang tips yang mereka terima atas usaha para cupid mengirimkan surat
Dimana gombalisasi menjadi suatu sajak, syair, dan bahasa komunikasi yang digolongkan dalam klasifikasi wajar..
Dimana banyak banget media komunikasi yang mengekspos mengenai cinta, kasih, cinta, kasih, dan cinta..
Hohoho.. romantis sekali bulan ini..
Dan.. Saya.. Tarida Diana Margaret.. yang lebih senang dan nyaman dengan inisial dan panggilan dida dianna..
Dengan hati dan semangat yang nge-”pink” banget, sangat rindu untuk membagikan hal-hal yang saya temukan dan baca di berbagai artikel dari bermacam-macam buku dan majalah yang saya telaah..
So, here i am, dida dianna..
Wanna share about love.. in this ”pinky” month ;)
Dida begitu tercengang, kaget, surprised, dan amazed.. Ketika dida membuka sebuah buku yang berjudul TRUTH. Anehnya, halaman yang pertama kali dida buka adalah halaman tengah! Padahal, biasanya, dida selalu membuka buku dari halaman pertama.. kali ini, entah mengapa, jari-jari dida mengarah pada halaman tengah.. Dan.. muncullah sebuah artikel berjudul “Jodoh di Tangan Kamu”.
OH MY GOD!!!
Di bulan yang nge-“pink” banget ini, kok hampir setiap hari, dida dicekokin sama hal-hal yang berhubungan dengan cinta, kasih, pacaran, pasangan hidup, dan pernikahan..
Ini pasti rencana Tuhan!
Isi artikelnya buagus… buanget..!!!
Let me share it to you..
Well, isi artikel “Jodoh di Tangan Kamu” itu, pada intinya membahas hal-hal yang sama, seperti 2 blogs dida sebelumnya.. Jadi, untuk hal-hal yang sama, dida rasa, nggak perlu dida tulis lagi, yah!
Tapi, uniknya, artikel ini menegaskan bahwa kita diajar untuk memiliki hikmat dalam menentukan jodohnya. Tuhan memberi tanggung jawab kepada kita masing-masing untuk bergumul dalam memilih siapakah pendamping hidup kita di tengah kancah dunia yang begitu semarak ini. Kesalahan memilih jodoh, tidak boleh semata-mata ditumpukan kesalahannya pada Tuhan. Kenapa? Karena jodoh yang kita pilih berdasarkan keputusan kita, maka kita wajib bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan kita sendiri. Layaknya kebesan memilih yang Allah berikan kepada Adam dan Hawa di Taman Eden. Ketika mereka salah memilih, maka mereka harus menerima resiko atas keputusannya dalam memilih.
Next..
Ternyata, memilih itu nggak segampang membalikkan telapak tangan dalam hom pim pah, juga nggak semudah menghitamkan lembar jawaban komputer pake pensil 2B, juga nggak semudah memilih giliran siapa yang menendang bola duluan di dalam sepak bola dengan melemparkan sebuah koin.
Well, memilih itu complicated!!!
Check this out..
(tulisan dida di blogs ini pake gaya bahasa ala ”dida dianna”, yah!)
Dalam kehidupan sehari-hari kita.. Khususnya ketika kita sedang berbelanja.. Sebagai konsumen, kita dituntut untuk cermat dalam memilih dan membeli produk. Iya, kan? Di sini, dida mau menekankan suatu kata, yakni memilih! Buwat setiap teman dida yang pernah membaca blogs dida sebelumnya, pasti pernah baca tulisan dida mengenai ”pilihan”. Dan.. dalam tulisan itu dida menyatakan bahwa memilih itu NGGAK MUDAH! Iya, kan?
Begitu juga sebagai konsumen, dalam memilih produk yang kita inginkan, nggak mudah, kan? Kalau salah memilih produk, misalkan kita salah memilih baju, lantaran ukurannya kebesaran! Duh, bete banget, kan? Pas dipake juga jadi nggak OK!! Well, kalaupun baju itu bisa ditukarkan ke tokonya, lantaran kemudian kita mendapatkan ukuran yang cocok untuk kita.. TAPI.. tetep aja, butuh energi, effort, dan biaya untuk menukarkannya ke toko yang bersangkutan. Iya, kan??
Nah, kesimpulannya, dalam memilih baju, kita harus dan kudu hati-hati dan teliti.. Tadi hal yang dida omongin adalah baju, sebuah barang yang fana..
Sekarang, yang mau dida omongin adalah JODOH. Tentunya dalam memilih JODOH harus extra hati-hati dan teliti! Setuju??
Menurut TRUTH (Februari 2008) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih jodoh:
- Hendaknya kita memilih teman hidup yang matang dan dewasa (dewasa mental dan kepribadian).
Ukuran memiliki dasar iman yang sama (misalnya, sama-sama beragama Kristen) bukanlah patokan bahwa orang itu baik, layak, dan pantas (kalau bahasa dida, worthed) dijadikan sebagai suami/istri. Kedewasaan rohani seseorang bukan hanya ditentukan oleh status agama semata-mata, tetapi jangka waktu dan bagaimana dia berjalan di dalam Tuhan, juga kerelaannya menyangkal diri setiap hari.
- Hendaknya kita memilih teman hidup yang mampu secara finansial dalam membangun rumah tangga atau keluarga.
Belakangan ini, kaum hawa (termasuk dida), sering dicap sebagai MATERIAL GIRL alias cewek matre! Lantaran, ngeliat cowok dari segi asset yang dimiliki, pekerjaan, investasi, dan berbagai sudut pandang finansial lainnya! Melalui blogs ini, hei dunia.. hei teman.. dida mau bilang, kalau dida dan beberapa cewek lainnya memiliki sudut pandang yang seperti itu, nggak berarti kita cewek matre!!! Kita realistis aja, dech! Uang bukan segala-galanya, tapi banyak hal yang butuh uang di tengah dunia yang material ini (since we are living in this material world). Kalau ada cowok atau pemuda yang belum mampu berdiri sendiri, tetapi sudah mencoba membawa pasangan kepada jenjang pernikahan, adalah isyarat bahwa pria tersebut tidak bertanggung jawab. Iyalah, mau dikasih makan apa istrinya? Mau dikasih makan cinta, huh?? Be realistic, bro.. sist..
- Meminta petunjuk dan pertimbangan orang tua, pembina rohani (konselor), atau orang yang dapat kita percayai dapat memberikan petunjuk dan arahan yang baik.
Nasehat dan petunjuk dari orang-orang tersebut, biasanya, lebih obyektif. Paling nggak, lebih obyektif kalau dibandingin sama kita yang sedang mabuk cinta.. Emang sih, sekarang udah bukan zamannya Siti Nurbaya, tetapi pertimbangan orang tua TETAP harus didengar. Pada umumnya, orang tua memiliki wawasan dan pandangan yang luas. Oleh karena itu, pandangan, masukan, dan nasehat mereka MUTLAK dibutuhkan.
Dalam artikel itu, dida juga menemukan beberapa point penting lainnya.. Dida kutip semuanya aja, yah! Habis, kalo dibahas per point, nanti blogsnya nggak selesai-selesai..
Pertimbangkan dengan matang, jika memilih pasangan hidup yang berkeadaan sebagai berikut:
· Berlatar belakang ekonomi berbeda
· Berlainan suku
· Berlainan bangsa
· Tidak seimbang tingkat pendidikannya
· Berlatar belakang keluarga yang khusus dan bermasalah
· Tidak dewasa (kayaknya, untuk ponit yang ini, udah disinggung sebelumnya!)
· Rentang perbedaan umur yang jauh
Ujilah diri, apakah kita sungguh-sungguh mencintai calon pasangan tersebut, atau sekedar karena beberapa faktor beriku:
· Kasihan terhadap calon pasangan tersebut
· Sekedar ingin punya pasangan, berhubung usia sudah cukup tua
· Sekedar ingin berketurunan
· Sekedar mematuhi hukum tak tertulis masyarakat
· Dorongan paksa pihak lain
· Dorongan biologis atau berahi semata
· Dorongan rasa sepi (karena kesepian).
Huf.. akhirnya selesai juga hal-hal yang harus dida tulis di blogs ini..
Sebagai penutup, namun bukan akhir dari blogs-blogs dida.. Dida pengen teman-teman, brothers, sisters.. membuka buku best seller sepanjang zaman.. Holy Bible, alias Alkitab.. kita lihat ada beberapa point kebenaran yang tercantum lewat ayat-ayat di bawah ini.. khususnya bagi kita (termasuk dida) yang sedang menggumulkan tentang pasangan hidup..
Kita berharga di mata Allah (Yesaya 43:4, Matius 10:29-32)
Allah mempunyai rencana yang baik bagi kita (Yeremia 29:11-13).
So, untuk semua teman-temanku yang masih menggumulkan pasangan hidupnya.. Juga untuk dida secara pribadi.. yuk, kita sama-sama gumulkan dan cari pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan..
Again and again..
Never ever be tired to..
P.U.S.H. (Pray Untill Something is Happened)
-dida dianna-
